Gedung e-Building Jl. Suryopranoto No.2 Ruko Harmoni Plaza Blok I No.1-4 Jakarta Pusat
  • 021 - 632 3399
  • info@cae-indonesia.com
  • Masuk

Artikel

Membangun Resiliensi Anak Tidak Gampang Putus Asa Saat Menghadapi Tantangan Kehidupan

image


Baru-baru ini kita dikejutkan dengan berita seorang siswa SD di NTT meninggal bunuh diri karena tak mampu beli buku dan pena. Ada kesedihan dan keprihatinan dari kasus ini. Jalan yang diambil mengungkapkan ada kerapuhan mental dan kerentanan emosi pada anak karena tidak seharusnya begitu. Kasus ini seolah menusuk rasa kemanusiaan kita atas keadaan sulit yang dialami anak. Tekanan kemiskinan berkelindan dengan emosi yang labil menjadikannya rentan dan rapuh. Anak tidak cukup kuat menyerap, menahan, dan melenting keluar dari tekanan dengan cara yang diharapkan. Tidak ada resiliensi.

Tulisan ini ingin mengajak kita – para pendidik memperhatikan ketangguhan mental emosi anak sejak dini.  Sisi perkembangan emosi anak adalah aspek penting yang akan menjadi fondasi dari setiap tahap kehidupan mereka.

Statistik menunjukkan bahwa sebagian besar masalah kesehatan mental dimulai di usia muda. Sekitar 1 dari 5 anak di Inggris mengalami masalah kesehatan mental, dengan separuh dari semua gangguan mental dimulai pada usia remaja (NHS, 2023). Di Amerika Serikat, hampir 20% anak-anak mengalami gangguan mental, emosional, atau perkembangan, dan angka perilaku bunuh diri meningkat 40% antara tahun 2009-2019 (CDC, 2016). Secara global, diperkirakan 1 dari 7 remaja mengalami masalah kesehatan mental (WHO, 2021).

Werner (1955-1985) melakukan penelitian pada anak-anak suku Kauai, di Hawai’i yang memiliki orang tua alkoholik, mengalami gangguan mental dan mayoritas tidak bekerja.  Penelitian ini menunjukkan faktor orangtua dan pola pengasuhan mempengaruhi perkembangan perilaku anak. Hasil penelitiannya menunjukkan dua pertiga dari anak yang tumbuh disana menunjukkan perilaku destruktif setelah lepas usia 10 tahun, tidak memiliki pekerjaan, terlibat penyalahgunaan obat terlarang dan mengalami kehamilan di luar nikah.  Sepertiga sisanya tidak menunjukkan perilaku destruktif dan disebut Werner sebagai anak-anak yang resilien.  

Resiliensi adalah kapasitas untuk mempertahankan kemampuan, untuk berfungsi secara kompeten dalam menghadapi berbagai stresor kehidupan (Kaplan dkk., 1996; Egeland dkk., 1993).  Resiliensi ditandai oleh sejumlah karakteristik, yaitu:  adanya kemampuan dalam menghadapi kesulitan, ketangguhan dalam menghadapi stress ataupun bangkit dari trauma yang dialami (Masten dan Coatsworth, 1998).

Resiliensi bukan trait yang bersifat statis (Cicchetti dan Toth, 1998), yang dimiliki oleh seseorang sejak lahir, atau secara otomatis bertahan dalam diri seseorang setelah sekali ia berhasil mencapainya (Meichenbaum, 2008). Resiliensi merupakan proses dinamis yang mencakup adaptasi positif dalam konteks situasi yang sulit, mengandung bahaya maupun hambatan yang signifikan, yang dapat berubah sejalan dengan waktu dan lingkungan yang berbeda (Luthar dkk., 2000; cicchetti dan Toth, 1998).

Anak yang resilien dapat menghadapi stress dengan lebih baik dan beradaptasi.  Anak yang resilien dapat bangkit kembali dan pulih seperti sedia kala setelah mengalami stres.  Kemampuan anak yang resilien sangat dipengaruhi oleh faktor risiko dan protektif, baik dari dalam maupun luar diri individu.  Faktor risiko adalah sesuatu yang membuat seorang anak semakin rentan terhadap hal-hal yang tidak diinginkan.  Faktor protektif adalah faktor yang memperkuat dan memberikan pengaruh yang positif bagi anak untuk mampu memunculkan strategi koping yang efektif terhadap stres yang dialami.  Semakin kuat faktor protektif, semakin besar peluang anak untuk mencapai resiliensi.  

Bila kita ingin seorang anak menjadi individu yang resilien maka kita perlu menyadari apa faktor risiko dan faktor protektif yang anak miliki.  Berdasarkan teori ekologi Bronfenbrenner (1979), keluarga sebagai mikrosistem dan lingkungan utama dalam perkembangan individu memiliki kontribusi yang besar terhadap pencapaian resiliensi.  Seorang anak tidak terlahir resilien.  Anak membutuhkan keluarga sebagai tempat yang aman untuk mereka belajar dan mengembangkan resiliensi dalam menghadapi stres, kesulitan dan masalah dengan lebih baik dan dapat lebih bisa beradaptasi sampai mereka dewasa.  

Ketika anak mengalami masalah emosi mental pendampingan perlu dilakukan sebagai dukungan untuk membangun resiliensi anak.  Kami mengutip dari buku Terapi Bermain Indonesia bahwa:  ”Intervensi dini sangat penting dalam mencegah masalah kesehatan mental anak berkembang menjadi krisis di kemudian hari. Oleh karena itu, memberikan bantuan yang tepat sejak dini sangat penting untuk mencegah masalah kesehatan mental memburuk.” - HY