Gedung e-Building Jl. Suryopranoto No.2 Ruko Harmoni Plaza Blok I No.1-4 Jakarta Pusat
  • 021 - 632 3399
  • info@cae-indonesia.com
  • Masuk

Artikel

Menaklukkan Gunung yang Tinggi

image


Hidup adalah seri dari perjuangan untuk meraih mimpi. Di dalam perjalanan banyak gunung yang harus didaki. Ketika mendaki, kita akan menghadapi udara yang dingin dan banyak tantangan dari alam, seperti dalam perjalanan hidup selalu akan ada tantangan dan rintangan. Seperti orang dewasa, anak-anak juga harus berjuang dalam hidup, mereka juga mendaki gunung yang ada di hadapan mereka.

Sebagai seorang praktisi terapis bermain, seorang teman memperkenalkan saya dengan seorang ibu yang anaknya menjadi korban bully.  Di awal pertemuan, saya merasa anaknya sulit untuk ditangani.  Namun saya juga percaya bisa belajar banyak hal saat membantu anaknya.  Sebut saja namanya Zen berumur 10 tahun yang tinggal dengan ibu dan ayah tirinya yang mempunyai kebangsaan yang berbeda.  Anak sangat dekat dengan ibunya dan masih tidur di kamar yang sama.  Ayahnya sangat sibuk dan cenderung memanjakannya dengan menuruti apa yang anak inginkan sebagai kompensasi ketidakhadirannya.   Ayah dan ibu mempunyai nilai dan perspektif yang berbeda mengenai mengasuh dan membesarkan anak.

Anak mengalami bully di sekolah.   Dalam kasus Zen, anak merasa keren menjadi teman orang yang melakukan bully terhadapnya.  Menurut ibunya, sejak saat itu anak mudah frustasi bila apa yang anak inginkan tidak dikabulkan.  Anak juga tidak bertanggung jawab dengan tugas sekolah, masalah dengan menghormati orang tua, banyak berdebat, sulit membedakan pengaruh yang baik atau buruk dan sulit untuk sabar.

 

Sumber Kekuatan

Seseorang yang ingin mendaki gunung harus mempunyai fisik yang kuat.  Kekuatan dalam hidup seseorang datang ketika ia sehat secara emosional.  Emosi yang sehat dapat dibangun dari kelekatan yang sehat.  Zen membutuhkan kelekatan yang sehat untuk membangun emosinya yang sehat sehingga anak akan menjadi lebih kuat secara mental.  Zen cenderung gelisah jika ibunya tidak ada dan selalu ingin tahu keberadaannya.  Zen bisa menelepon ibunya beberapa kali hanya untuk menanyakan apa yang sedang dilakukan ibunya, di mana ibunya, dan kapan ibunya akan kembali.  Hal ini membuat saya fokus memperhatikan attachment anak dengan ibunya lebih dalam.  Ainsworth (1970) mengidentifikasi tiga gaya attachment, Anxious-Avoidant Insecure Attachment, secure attachment and Anxious-Resistant Insecure Attachment.   Ainsworth menyimpulkan bahwa gaya attachment ini adalah hasil interaksi awal dengan ibu.  Gaya attachment Zen dan ibunya adalah Anxious-Resistant Insecure Attachment.  

Secara umum, seorang anak dengan Anxious-Resistant Insecure Attachment biasanya akan sedikit bereksplorasi dan sering kali curiga terhadap orang asing, bahkan ketika orang tuanya ada.  Ketika sang ibu pergi, anak sering kali merasa sangat tertekan. Anak umumnya bersikap ambivalen ketika kembali (Wikipedia, ensiklopedia gratis, Attachment in Children, 2017).

Anak biasanya akan menunjukkan perilaku menempel dan bergantung, namun akan menolak sosok kelekatan ketika mereka terlibat dalam interaksi.  Anak gagal mengembangkan perasaan aman dari sosok kelekatan (Ainsworth & Bell, 1970).

Dalam kasus Zen, Anxious-Resistant Insecure Attachment terlihat dari caranya mencari perhatian ibu dan ayahnya dengan cara yang negatif.  Ketika permintaannya tidak dikabulkan, ia menjadi suka membantah, tidak menghormati dan membalas ketika diberi nasihat oleh orang tua.  Zen juga tidak peduli dengan kebersihan pribadinya.  Anak beberapa kali membuat masalah di sekolah dan mendapat skorsing.  Orang tuanya dipanggil untuk datang dan menandatangani surat pernyataan, jika Zen terus melakukan perbuatannya, maka ia akan mendapat konsekuensi serius dari pihak sekolah.  Menurut konselor sekolah Zen adalah orang yang manis, namun terkadang ia bisa melakukan hal-hal yang tidak pantas.

Sebagai seorang terapis bermain saya perlu menciptakan hubungan terapeutik untuk membangun perasaan aman dan penerimaan dalam hubungan dengan anak.  Melalui sesi terapi bermain saya membangun koneksi dan kepercayaan dengan anak.  Saya percaya ini akan membantu Zen untuk memiliki kelekatan yang sehat.

 

Mencari Jalur Pendakian

Saat pertama kali mendaki gunung, kita tidak tahu apa yang akan dihadapi dalam perjalanan mencapai puncak.  Kita mulai memahaminya saat mulai melakukan perjalanan.  Kita melihat tantangan dan hambatan dengan lebih jelas dan mendapatkan pengalaman serta solusi dari setiap permasalahan yang dihadapi.  Kemudian kita bisa mencapai tujuan yang diimpikan.

Saya melihat sesi terapi bermain ini sebagai perjalanan Zen untuk menemukan jalan menuju puncak.  Zen memulai sesi pertama dengan ragu-ragu.  Anak meminta ibunya untuk menemaninya.  Anak bingung harus berbuat apa padahal saya memberinya kebebasan memilih media apa saja yang ingin anak gunakan.  Hal pertama yang dia lakukan adalah memegang pasir.  Setelah saya tunjukkan apa saja yang ada di play room, saya bisa merasakan anak mulai tenang.  Anak berbagi mengenai perasaan bosan ketika tidak ada pekerjaan yang dilakukan.  Anak mengatakan bahwa dia takut dengan kecoa.  Zen pun bertanya siapa lagi yang menjalani terapi dan berapa anak yang saya bantu.  Zen mempunyai banyak pertanyaan.  Zen juga berbagi kenangan yang dia ingat saat bermain pasir.  Anak mengubur tangannya di pasir dan mengeluarkannya.   

Saat saya menerimanya dengan hangat dan bersikap permisif terhadap apa yang dilakukannya, hubungan kami semakin dekat meski baru bertemu.  Zen terlihat dapat mengekspresikan dirinya.  

Saya melihat sisi lain dari Zen.  Anak ingin orang lain melihat apa yang dia lakukan dengan baik.  Pada saat itu saya dapat melihat ada keraguan dalam ketenangan yang diproyeksikan di luar.  Saya mencoba untuk fokus pada ekspresi wajahnya tetapi masih tidak dapat menangkap apa pun awalnya.  Saya mencoba untuk rileks meskipun itu tidak mudah karena anak kadang terdiam beberapa saat.  Saya perhatikan ketika dia merasa bosan, sulit baginya untuk menyadari apa yang dia lakukan.

Apa yang dilakukan Zen dengan media pasir tersebut adalah eksplorasi diri untuk membangun jiwanya.  Saya belajar dari Jones (1986) bahwa hasil penelitiannya mendukung keyakinan Piaget dan Jung bahwa ada prinsip pengorganisasian sentral, yang menentukan perkembangan jiwa manusia (Michel & Friedman, 1996).  



Dalam kasus Zen, anak secara tidak sadar mulai memahami hal-hal yang terjadi di dalam dirinya.  Anak mulai merasakan hal positif mengenai hubungan dengan keluarganya.

Kemudian saya belajar bahwa proses permainan menggunakan pasir memberikan kesempatan kepada anak secara non verbal atau yang tidak dapat berbicara dengan jelas untuk mengkomunikasikan perasaan; emosi dan pandangan hidup mereka kepada orang lain di tempat yang aman.  Zen merasa nyaman untuk mengekspresikan dirinya melalui media pasir karena ia melakukan prosesnya di ruang yang aman dan terlindungi.  Anak bebas melakukan apapun yang dia inginkan dalam berekspresi.

Proses anak semakin dalam di sesi-sesi berikutnya. Zen berbagi kenangan indahnya pergi berlibur bersama ayahnya saat berlibur ke Jepang.  Anak membuat gunung dengan danau di tengahnya dengan pasir basah.  Anak ingat memancing dan menangkap ikan.  Anak juga ingat momen indah dimana anak bermain sepak bola dengan kakeknya di desa.  Anak mulai mengingat memori baik yang dialaminya.  

Proses Zen semakin dalam ketika anak membuat gunung di pasir basah.  Anak mulai menuangkan air ke gunung dan menambahkan lebih banyak pasir ke gunung dengan kecepatan tangannya yang semakin meningkat.  Saya merasa anak berusaha melepaskan banyak ketegangan.  Saya belajar bahwa dalam prosesnya saya dapat menggunakan metafora pasir yang jatuh untuk membantu proses tersebut lebih dalam lagi.  Refleksi yang saya gunakan dengan metafora akan membantu menggali perasaan dalam diri anak.  Dan hasilnya proses penyembuhan pun mulai terjadi.  Saya berharap Zen mendapatkan penyembuhan diri melalui proses ini.  Saya harus percaya pada prosesnya untuk menciptakan tempat penampungan yang aman bagi anak.  Ketika anak mengucapkan terima kasih adalah salah satu hal yang membahagiakan bagi saya.

 

Saya merasakan melalui  permainan dengan media pasir Zen mulai membangun kepercayaan dirinya.  Barnes menulis bahwa rasa percaya diri anak akan berkembang ketika anak mempunyai kesempatan untuk bereksplorasi, dorongan untuk bereksplorasi dan mengekspresikan diri, serta bimbingan untuk belajar dari eksplorasi dan kesalahannya selama ini.  Anak-anak yang begitu “aman” dan dibatasi sehingga mereka tidak pernah dibiarkan mengambil resiko tidak akan mampu mengembangkan rasa percaya diri.  Konsistensi dan prediktabilitas juga berfungsi untuk meningkatkan kepercayaan diri seorang anak (Barnes, 2013, hal. 37).

Saya juga memberikan cerita terapeutik kepada Zen untuk membantunya memahami hubungan dengan lebih baik.  Saya harap anak bisa membangun hubungan dengan cara yang positif dengan mengubah cara pandang negatifnya tentang dirinya sendiri.  Anak tidak perlu takut kehilangan teman meskipun anak tidak selalu setuju dan mengikuti apa yang dikatakan atau dilakukannya.

  

Batasan yang Sehat

Dalam mendaki gunung kita akan mengambil keputusan yang beresiko.  Setiap keputusan menentukan tindakan kita dan ada konsekuensinya.  Keputusan yang salah dapat membawa bencana.  Demikian juga, seorang anak memerlukan batasan-batasan yang sehat untuk membangun kepekaan batin yang dapat membantunya dalam mengambil keputusan dan mempertimbangkan konsekuensinya.

Anak-anak merasa aman dengan batasan.  Mereka perlu belajar bahwa ada tempat yang aman.  Mereka belajar hal ini ketika mereka diberi batasan.  Anak-anak tanpa batasan di rumah, di sekolah atau di tempat terapi adalah anak-anak yang tidak merasa aman.  Mereka diberi pesan bahwa dunia adalah tempat yang tidak aman karena tidak ada batasan dalam melakukan apapun.  Tentu saja, jika tidak ada batasan bagi anak dalam dunianya, maka tidak ada juga batasan bagi orang dewasa, atau apa yang boleh dilakukan orang dewasa terhadap anak-anak (Barnes, 2013, hal. 28).

Sepertinya semuanya berjalan baik karena Zen semakin  menikmati setiap sesi terapi bermain.  Dari sesi pertama hingga sesi kesebelas sepertinya semuanya berjalan dengan baik.  Sebelum mengakhiri kesebelas, saya bertanya kepada Zen berapa sesi lagi yang anak butuhkan dalam terapi bermain?  Dia menjawab lima sesi lagi.  Namun tiba-tiba anak berubah pikiran dan berkata ingin berhenti.   Saya bingung apa yang terjadi.  Saya bertanya kepada ibunya dan konselor sekolahnya, ternyata anak merasa malu untuk menjalani terapi.  Saya perlu menghormati keputusannya meskipun saya tahu anak masih membutuhkan terapi.  Sebagai seorang profesional kesehatan mental, saya diingatkan untuk memperjuangkan yang terbaik bagi anak.  Saya belajar bahwa kesejahteraan seorang anak adalah yang terpenting.  Saat dihubungi orang tuanya, saya sampaikan bahwa Zen perlu melanjutkan terapinya, saya jelaskan bahwa saya ingin yang terbaik darinya.  Tidak lama setelah itu saya mendengar bahwa pihak sekolah memanggil orang tuanya karena telah terjadi sesuatu yang serius, dan mereka perlu menandatangani surat pernyataan mengenai hal tersebut.  Saya berkomunikasi dengan kepala sekolah dan konselornya tentang kasus ini.  Akhirnya orang tua setuju untuk melanjutkan sesi terapi bermain.  Saya dapat membantu proses Zen dengan lebih baik.  Saya memberikan saran kepada konselor sekolah untuk membangun hubungan yang konsisten dengannya, dan saya mengatakan kepada ibunya bahwa Zen perlu menerima konsekuensi dari tindakannya juga.  Saya pikir ini adalah hal yang baik untuk anak bisa belajar dari kesalahan yang dilakukannya.  Sebab biasanya ibunya selalu berusaha melindunginya dan pihak sekolah mengalami kesulitan untuk menangani anak.  Awalnya Zen tidak mau bersekolah karena harus menjalani skorsing, namun setelah ibunya menjelaskan kenapa ia harus mengambilnya, anak pun dapat memahaminya.

 

Penyembuhan Diri dan Neuroscience

Temuan baru-baru ini dari neuroscience membantu kita memahami proses yang terjadi di otak manusia ketika merespons terhadap bahaya atau ancaman.  Amygdala adalah bagian di dalam otak manusia yang diciptakan untuk melindungi kita dalam segala keadaan.  Amygdala akan membunyikan alarm ketika ada dalam situasi berbahaya, namun kesalahan penafsiran terhadap situasi tersebut dapat terjadi ketika menilai keadaan terlalu cepat dibandingkan merespon secara sadar.  Kecenderungan menggeneralisasi suatu kondisi khusus dapat menimbulkan kepanikan dan membuat kita rapuh terhadap pemikiran-pemikiran yang negatif.  Pada kasus Zen saya mengetahui bahwa kecemasan yang muncul saat anak menghadapi situasi tertentu menyebabkan anak melakukan sesuatu tanpa kendali.  Perilaku buruk terjadi secara tiba-tiba.

Melalui terapi bermain, Zen mengalami hubungan dan pengalaman baru sebagai upaya membentuk jalur saraf baru agar terjadi penyembuhan diri.  Saya juga mengetahui bahwa di otak manusia terdapat mirror neuron.   Apa yang kita lakukan dengan orang terdekat dalam hidup kita akan kita tiru apakah itu baik atau buruk.  Zen membutuhkan sosok yang bisa menjadi role model positif baginya.  Ketenangan saya dalam merespon anak akan membantu dalam menangani panik yang terjadi dalam dirinya.  Melalui delapan belas sesi proses terapi bermain, mirror neuron Zen diaktifkan dan pada sesi terapi bermain terjadi peniruan.  Proses ini membantu Zen untuk merespon lebih baik masalah yang ada dalam dirinya.  Ibunya juga memperhatikan bahwa kini ia bisa mengendalikan emosinya dan tidak mudah frustasi ketika apa yang diinginkannya tidak terkabul.  Dia bisa menunda untuk mendapatkan apa yang diinginkannya tanpa bereaksi negatif.

 

Membangun Resiliensi Anak

Untuk mendaki gunung seseorang memerlukan persiapan fisik, keterampilan dan mental.  Ketiganya penting diterapkan untuk menunjang keberhasilan pendakian.  Kita boleh saja mempunyai kemampuan navigasi yang hebat, namun jika fisikmu mudah menurun, pada akhirnya mental kita akan diuji, apakah kita ingin menyerah atau terus mendaki.

Seorang anak akan menjadi lebih resilien ketika faktor perlindungan internal dan lingkungannya diperkuat.  Terapi bermain yang berpusat pada anak melibatkan terapis sebagai kekuatan non-direktif di ruang bermain.  Dalam terapi bermain yang berpusat pada anak atau tidak diarahkan, anak memilih dari sejumlah besar mainan di ruang bermain, memilih apa yang akan dimainkan dan bagaimana cara bermainnya karena terapis percaya bahwa anak memiliki kemampuan bawaan untuk menyembuhkan dirinya sendiri melalui proses yang terjadi saat terapi.  Melalui terapi bermain, Zen menjadi lebih sehat secara emosional dan kuat secara mental.  

Dalam terapi bermain setiap kemajuan harus dirayakan.  Hal ini diperlukan sebagai pengalaman positif untuk meraih kemajuan-kemajuan lainnya.  Saya merasa takjub melihat Zen mengalami proses dari awal sampai sesi terakhir dan mengalami banyak kemajuan.  Saya yakin anak akan terus berkembang dalam setiap aspek kehidupannya.

 

Kesimpulan

Untuk membantu seorang anak kita membutuhkan segala sesuatu yang diperlukan.  Ibarat perjalanan mendaki gunung kita memerlukan segala sesuatunya untuk mencapai puncak.  Kita memerlukan kekuatan, tekad untuk tetap melangkah dalam situasi apapun dan mental yang kuat untuk bangkit dan melanjutkan perjalanan menuju puncak.  Meskipun terapi bermain telah berakhir namun bagi Zen perjalanannya terus berlanjut.  

Zen telah meningkatkan kemampuannya dalam membangun koneksi serta keterampilan komunikasinya.  Zen juga sudah lebih baik secara emosi yang terlihat dari perilaku yang baik dan suka membantu.   Kini orang tua dan pihak sekolah bisa melihat perkembangannya juga.

 

Yudi Hartanto

Certified Play & Creative Art Therapist

Certified Filial Play Coach

I believe that every child needs play to get a sense of self identity, to build self worth, and  to make sense of the world in which they are live in.  From my experiences, I gained confidence in helping and motivating families effectively when they face problems and challenges in life.

 

 

References

Ainsworth, M. D. S., & Bell, S. M. (1970). Attachment, exploration, and separation: Illustrated by the behavior of one-year-olds in a strange situation. Child Development, 41, 49-67.

Barnes, M. (2013).  The Healing Path With Children: An Exploration for Parents and                                                                                                                                Professionals (Third Edition).  England:  The Play Therapy Press.

Michel, R. R. And Friedman, H.S. (1996).  Sandplay, Past Present and Future.  Routledge:  :  London.

Wikipedia, free encyclopedia.  (2017).  Attachment in children.  Available at:  https://en.wikipedia.org/wiki/Attachment_in_children.  (Accesed:  17 Feb. 2017).

Wikipedia, free encyclopedia.  (2017).  Mary Ainsworth.  Available at: https://en.wikipedia.org/wiki/Mary_Ainsworth#Anxious-Resistant_Insecure_Attachment.  (Accesed:  17 Feb. 2017).


Tulisan diambil dari Buku Bunga Rampai Terapi Bermain Indonesia - Sekumpulan Kisah Transformasi, Pemulihan, dan Keajaiban.  Diterbitkan oleh PT Lontar Digital Asia