Gedung e-Building Jl. Suryopranoto No.2 Ruko Harmoni Plaza Blok I No.1-4 Jakarta Pusat
  • 021 - 632 3399
  • info@cae-indonesia.com
  • Masuk

Artikel

Exceptionality Down Syndrome

image


Semua manusia adalah pembelajar sepanjang hayat (life-long learners), demikian juga dengan orang dengan down syndrome.

Exceptionality Down Syndrome

Pada bulan Maret, dunia menetapkan tanggal 21 Maret sebagai hari Down Syndrome (Word Down Syndrome Day). Melalui resolusi PBB, hari Down Syndrome ditetapkan dengan tujuan membangkitkan kepedulian dan kesadaran bahwa anak-anak dan orang-orang dengan down syndromee adalah bagian dari masyarakat yang berhak menikmati hak asasi sebagai manusia dan kebebasan fundamental secara penuh untuk memiliki hidup yang lebih baik.
 
Sejarah penetapan hari down syndrome sedunia ini sudah banyak ditulis dan dapat ditelusuri lewat mbah google. Demikian juga dengan definisi dan karakteristik terkait down syndrome. Informasi tentang down syndrome sebagai satu kondisi kekhususan yang mempengaruhi perkembangan dan cara belajar anak, sudah banyak tersebar di media utama ataupun sosial. Namun tetap saja masih ada mispersepsi tentang down syndrome di kalangan masyarakat, dunia pendidikan, maupun layanan kesehatan. Kesalahan pandangan tentang down syndrome ini telah menyamaratakan atau memberikan kesimpulan yang salah terhadap anak atau orang dengan down syndrome, sehingga dapat menghilangkan kesempatan mereka untuk tumbuh dan berkembang menggapai potensi yang mereka miliki.
 
Mispersepsi yang paling banyak terjadi adalah: down syndrome dipandang sebagai kondisi dengan gangguan intelektual (intellectual disability), sehingga anak dengan down syndrome tidak dapat diharapkan belajar banyak, atau dapat mandiri di dalam hidupnya. Bahwasannya anak atau orang dengan down syndrome dianggap memiliki tingkat kecerdasan jauh di bawah rata-rata orang pada umumnya, telah menempatkan anak atau orang dengan down syndrome dalam stigma ketidakmampuan. Pandangan ini seringkali membatasi ruang atau lingkungan bagi orang dengan down syndrome untuk berkembang dan belajar. Tanpa pemahaman yang cukup, seringkali label intellectual disability mengarahkan persepsi bahwa anak atau orang dengan down syndrome tidak dapat belajar, tidak memiliki potensi, bahkan tidak dapat berpartisipasi di masyarakat.
 
Perlu dipahami, salah satu ciri anak dengan down syndrome adalah adanya keterlambatan perkembangan kognisi, dengan variasi dari yang ringan hingga berat. Keterlambatan perkembangan kognisi ini memang mempengaruhi intelektual atau kecerdasan anak. Namun bukan berarti mereka tidak bisa belajar. Semua manusia adalah pembelajar sepanjang hayat (life-long learners), demikian juga dengan orang dengan down syndrome. Hanya memang kebanyakan anak dengan down syndrome memiliki cara belajar yang lebih lambat dan dengan strategi belajar yang berbeda.
 
Hampir semua anak down syndrome terlahir dengan permasalahan di pertumbuhan organ gerak (motor impairments), kesulitan dalam berbicara (speech-language disorder), kesulitan dalam memori jangka pendek (deficit in short term and working memory), mengalami problem sensori, dan kebanyakkan memiliki permasalahan kesehatan pula (health issues).
 
Untuk mengatasi pelbagai permasalahan perkembangan yang dihadapi anak dengan down syndrome, intervensi dini (early intervention) merupakan faktor yang sangat penting diberikan kepada anak. Sama seperti anak pada umumnya, usia 0-6 tahun menjadi golden age masa tumbuh kembang anak, di mana intervensi bagi anak dengan down syndrome sangat kritikal mempengaruhi perkembangan anak selanjutnya, baik saat memasuki usia belajar, hingga remaja dan dewasanya. Intervensi dini meliputi penanganan pada fungsi gerak (motor skills), okupasi terapi dan sensori integrasi, terapi wicara, dan beberapa model intervensi lainnya seperti play dan story play.
 
Pada usia sekolah, kesempatan bagi anak dengan down syndrome untuk belajar harus terbuka seluas mungkin. Riset menunjukkan bahwa model inklusi ternyata merupakan setting pembelajaran yang paling efektif bagi anak dengan down syndrome (International Symposium on Cognitive Research and Disorder, 2018). Sekolah umum tidak sekadar tempat anak bersosialisasi, tapi juga lebih efektif mendorong anak dengan down syndrome lebih progres dalam belajarnya. Tentu saja dengan syarat, yaitu: kesiapan pihak sekolah memberikan diferensiasi pengajaran, penggunaan multi-sensori strategi dalam belajar, kreativitas kegiatan dan ekstrakurikuler yang menarik bagi siswa, serta sikap pendidik yang selalu sabar memberikan dorongan dan dukungan untuk setiap hal kecil keberhasilan anak.
 
Tidak mudah memang menemukan sekolah umum yang dapat mengakomodasi kebutuhan belajar anak dengan down syndrome. Tetapi paling tidak, kita memiliki pemahaman yang benar bahwa anak dengan down syndrome dapat belajar, sesuai dengan kondisinya, jika diberi ruang kesempatan yang luas. Anak atau orang dengan down syndrome bisa hidup secara mandiri.
 
Kita telah melihat, ada orang-orang seperti Pablo Pineda seorang guru dan sarjana di bidang psikologi pendidikan. Angela Bachiller yang menjadi anggota dewan kota di Valladolid, Spanyol. Tim Harris sang pemilik restoran Tim’s Place, yang berhasil mendapatkan sertifikat untuk bisa menjalankan bisnis dan industri makanan. Dan masih ada nama-nama untuk disebutkan. Mereka adalah orang-orang dengan down syndrome yang berhasil melewati segala hambatan dan mengubahkannya menjadi kesuksesan yang menginspirasi dan membanggakan. (vj)
 
Cipta Aliansi Edukasi sebuah lembaga pelatihan profesi menyelenggarakan pelatihan bagi guru dan pemerhati pendidikan dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para pendidik dalam membantu pembelajaran anak berkebutuhan khusus di sekolah umum.
 
Info lebih lanjut: 
Sekretariat CAE: 021-6323399
info@cae-indonesia.com
www.cae-indonesia.com
 
#CAE, #pendidikaninklusi, #specialeducation, #hakanak #pendidikanuntuksemua, #exceptionality, #downsyndrome